Wisata Pantai Petanahan Kebumen

Wisata Pantai Petanahan Kebumen

Pantai Petanahan merupakan Obyek wisata tahunan. Ini mengingat pengunjung yang datang ke Obwis (Obyek Wisata) tersebut, paling dalam satu tahun hanya dua kali. Lebaran Idul Fitri dan pada hari raya Idul Adha, atau hari raya Qurban. Hanya saja, Obwis tersebut mempunyai keunikan tersendiri dibanding Obwis lainnya di Kabupaten Kebumen. Pengunjungnya bukan hanya dari luar Kabupaten Kebumen, tetapi masyarakat di sekitar lokasi tersebut, yakni masyarakat kecamatan Petanahan tetap menyempatkan diri untuk datang ke pantai tersebut.

Pantai yang terletak di Desa Karanggadung Kecamatan Petanahan ini, nampaknya memang mempunyai kekhasan tersendiri. Seolah ada daya pikat bagi pengunjung yang pernah datang. Sekalipun mereka hanya untuk menikmati deburan ombak laut yang seolah berkejaran tak ada henti-hentinya. Sekalipun panas terik matahari menyengat tubuh Wisatawan yang datang ke Pantai tersebut, misalnya di saat hari raya Idul Fitri, terutama pada hari ke tujuh dan ke delapan. Namun pengunjung tak ada hentinya sampai malam hari. Padahal, mereka ini harus datang berhimpit sampai ke Pantai Petanahan.

Terletak 8 Km Selatan Goa JatiJajar. Atau 53 Km dari Kota Kabupaten Kebumen. Tepatnya di desa/kecamatan Ayah, Merupakan Obyek Wisata Pantai yang memiliki keindahan alam sangat menawan.Dari kondisinya, yang berada di antara Laut Selatan dengan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani KPH Kedu selatan ini, Merupakan kombinasi atau perpaduan antara Pantai dan Hutan, Seperti itu jarang kita jumpai. Untuk di Jawa Tengah mungkin hanya ada di Kota yang berslogan "BERIMAN" ini. Karcis tiket masuk Rp 3.500.

Namun keindahannya tetap saja tidak hilang walaupun daerah ini pernah merasakan getaran Gempa bumi walaupun tidak berdampak Tsunami, yaitu gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala richter yang pusatnya di 142 Kilometer barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat. Getaran Gempanya dapat dirasakan oleh masyarakat di kebumen terutama para Nelayan di kawasan Pantai. Di tempat ini selain kita dapat menikmati pantai kita juga dapat menyaksikan matahari tenggelam yang mengagumkan.

wisata pantai
pasirpantai.com

Di dasar tugu terdapat prasasti dengan tulisan yang berbunyi “Monumen Peringatan Dini Tsunami, Kabupaten Kebumen, Diresmikan tanggal 5 September 2007, oleh, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Drs. H. Ali Mufiz MPA”. Tanda koma saya tambahkan untuk menandai pergantian baris pada prasasti. Setelah kejadian tsunami yang meluluhlantakkan pantai Selatan Pulau Jawa pada 2006, rupanya pemerintah daerah Kebumen telah melakukan sejumlah langkah untuk menghadapi bahaya mematikan yang datang dari arah laut ini. Dari tugu kami mengambil jalan ke arah kiri, dan membayar tiket masuk Rp. 3.500 di pos jaga sederhana yang dijaga seorang pria. Sesaat kemudian kami sampai di tempat parkir kendaraan yang cukup luas, yang di tengahnya terdapat beberapa buah bangunan permanen kecil beratap genteng, berdinding separuh. Tak jelas apakah bangunan ini dimaksudkan sebagai tempat berjualan atau tempat berteduh. Namun karena sekelilingnya tanah berpasir gersang, maka menjadi tak menarik sama sekali untuk duduk di sana.

wisata pantai
arjusmansakuto.blogspot.com

Pantai Petanahan memang memiliki tebing rendah setinggi sekitar satu meter yang memisahkan daerah bibir pantai dengan tempat dimana ada warung terbuka diantara rindang pohon-pohon Cemara Udang. Di salah satu warung terbuka diantara pepohonan itu saya akhirnya tak tahan juga untuk tidak memesan sebutir kelapa muda yang warna hijau serta bentuknya terlihat sangat menggoda.

Sebuah menara pengawas dari kayu menjadi salah satu titik menarik yang ada di tepian pantai. Sayang saya tak melihat ada tangga untuk menuju ke atas sana. Mungkin tangganya hanya dipasang pada waktu akhir pekan saja. Perhatikan tebing pendek yang ada di bawah menara, yang saya kira merupakan batas hempasan ombak ketika air laut tengah pasang.

Di ujung jalan terdapat sebuah bangunan permanen berbentuk L dengan atap sebagian seng sebagian genteng yang disebut sebagai petilasan Pandan Kuning. Agak ke depan terdapat sebuah sumur, yang terlihat kering di bawah sana ketika saya menengok ke dalam lubangnya. Pintu terkunci, dan tak ada orang di sana. Keberadaan petilasan ini saya ketahui sebelumnya dari penjaga pos ketika membayar tiket.

Petilasan yang dikeramatkan dan menjadi tempet tirakat orang-orang yang masih percaya mistik untuk mendapatkan keinginannya ini terkait kisah seorang wanita bernama Sulastri, anak Citro Kusumo Bupati Pucang Kembar, yang menjadi rebutan dua pria. Namun si wanita akhirnya menikah dengan lelaki pilihan hatinya yang bernama Raden Sujono, anak Demang Wonokusumo.

Pada sebuah kesempatan, pesaingnya yang bernama Joko Puring berhasil menculik Sulastri dan disekap di sekitar Pantai Petanahan (dulu bernama Pantai Karanggadung). Akan tetapi Sulastri tetap setia pada suami yang akhirnya bisa membebaskannya. Warna pandan yang digunakan untuk mengikat Sulsatri konon berubah menjadi kuning ketika dilepaskan oleh suaminya.


Related Projects:

Comments